Ganjil yang digenapkan
25 tahun lalu....
9 November di tahun 90-an. Dengan cuaca dan keadaan yang tak banyak berbeda dengan sekarang. Untuk yang ketiga kalinya bapak mendengar ungkapan yang sama dari si mbah yang ngebantu mak lahiran. "Oalah.... Wedo' neh, Tan" 😂😂. Meng-azan-kan anak perempuan ketiganya dengan harapan yang harus bapak kubur rapat-rapat tentang keinginannya memiliki anak laki-laki.
"Ku kira melebur masa lalu itu hanya masalah waktu saja. Tetapi, aku salah. Menutup kenangan itu tentang pilihan hati kita sendiri" (Dr. Nisa film hijaiyah Cinta). Tak banyak kenangan masa kecil, terlebih aku juga mungkin berharap lupa (ala-ala novelis gitu biar terlihat jadi klimaks 😂😂). Karena aku dulu terlalu belagu untuk mengabadikan memoar waktu masa kecil. Sungguh, aku mengingat masa-masaku itu ketika ada 'hero' semasa SD (tak doain kalian udah pada dapat jodoh ya abang-abang 😊). Waktu itu, ada senior-senior SD yang merasa jadi preman.
Dan selalunya gua nangis tersedu-sedu ketika diejek dan diketawain
"Tadi malam baca turutan (juz amma yang se-konco sama iqra 😒) nangis."
"Kalo nggak bagiin duet 500 awas aja nanti istirahat."
Dan dengan cengengnya gua nangis sesenggukan. Terlalu receh mungkin jika diingat masa ini. Tapi, dengan jiwa 'hero'-nya dia ngomong.
"Besok kalo orang itu gangguin lagi, bilang kakang ya."
sambil nepukin bahu untuk nenangin. Dan hebatnya para precil (preman kecil) itu berhenti gangguin lagi. Sweet juga sih ternyata 😅😅. Dan kamu yang namamu entah dimana, jangan cemburu yah. Ini hanya sekelumit kisah yang ingin aku ingat di kemudian hari. Agar rasa terima kasihku selalu bisa terucap jika nanti bertemu mereka 😉.
Dan....
Yang paling nggak habis pikir dari dulu sampe gua abegeh (ya kira-kira kelas 3 MTs ketika mata gua udah ngenalin kalo ada cowok ganteng dan yang biasa ajah) 😂😂. Style ke-lelakian itu lekat banget dah. Sampe pertengahan-akhir tahun 2012, ketika telah diizinkan menjejakkan kaki di sebuah kampus di Pekanbaru. Allah pertemukan aku dengan hijrah. Meski dari masa abu-abu pun aku sudah bergelut dengan pengajian.
Dan yang paling parah adalah ketika sekitaran syawal 1433, ketika bibi memutuskan untuk mudik dan berkumpul di rumah mbah kakung. (Mbah kakung dan mbah uti, genduk kangen. Alfatihah ðŸ˜ðŸ˜) bibi kesayangan nyeletuk dan itu ngebuat rasa syukur makin bertambah. Dan yakin banget ini semua karena Allah memang menyayangi guah.
"Wah, beruntung kamu nduk, pake rok. Kalo nggak jalannya aja pangling, bibi kira cowok keren mana tadi." 😒😒
Dan bagi penulis sih, itu jalan udah yang paling feminim 😅. Yah, kalo di kasi kesempatan. Moga aja ada yang mau bantuin berubah jadi feminim lagi 😂😂 meski nggak janji guah bisa 🙈.
Perjalanan organisasi di kampus sampai dunia kerja pun masih di warnai dengan yang begitu. Panggilan abang, mas, pak, ustad pernah berdendang riang di telinga ku yang kini udah nggak sehat-sehat banget. Efek sering dengerin panggilan itu kali yah 😅😅. Dan yang nyentrik sampe hari ini "Mbok yo pake yang feminim kenapa. Biar image laki-lakinya hangus" 😂😂... Dan gua cuma bisa nyengir dan berucap Hamdallah, karena Allah pertemukan dengan hijrah yang bisa meminimalisir 'kesalahan' masa lalu.
Kalo di webtoon ada edisi screen fanart. Kalo yang ini apaan yah? 😀😀. Apapun itu, Setidaknya ini perjalan ke-25 guah. Terima kasih doanya. Terima kasih karena telah melahirkan anak yang kelakunya minta digetok di dinding. Tahun ganjilku, tapi tetap tergenapkan karena Cinta dari bapak dan mak 😘😘. Terima kasih juga telah menjagaku dengan pengalaman-pengalaman hebat kalian. Meski adikmu ini masih suka ngeyel kalo di kasi tau 😃😃.
Masa laluku mungkin akan terasa hambar, begitu juga dengan hari ini, esok, lusa dan seterusnya tak begitu berarti, jika tanpa kalian teman-temanku. Terima kasih telah membersamai meski kadang-kadang sikap cuekku ngeselin banget.
ÙŠَا Ù…ُÙ‚َÙ„ِّبَ الْÙ‚ُÙ„ُوبِ Ø«َبِّتْ Ù‚َÙ„ْبِÙ‰ عَÙ„َÙ‰ دِينِÙƒَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
____See you soon____
📷 line webtoon
9 November di tahun 90-an. Dengan cuaca dan keadaan yang tak banyak berbeda dengan sekarang. Untuk yang ketiga kalinya bapak mendengar ungkapan yang sama dari si mbah yang ngebantu mak lahiran. "Oalah.... Wedo' neh, Tan" 😂😂. Meng-azan-kan anak perempuan ketiganya dengan harapan yang harus bapak kubur rapat-rapat tentang keinginannya memiliki anak laki-laki.
"Ku kira melebur masa lalu itu hanya masalah waktu saja. Tetapi, aku salah. Menutup kenangan itu tentang pilihan hati kita sendiri" (Dr. Nisa film hijaiyah Cinta). Tak banyak kenangan masa kecil, terlebih aku juga mungkin berharap lupa (ala-ala novelis gitu biar terlihat jadi klimaks 😂😂). Karena aku dulu terlalu belagu untuk mengabadikan memoar waktu masa kecil. Sungguh, aku mengingat masa-masaku itu ketika ada 'hero' semasa SD (tak doain kalian udah pada dapat jodoh ya abang-abang 😊). Waktu itu, ada senior-senior SD yang merasa jadi preman.
Dan selalunya gua nangis tersedu-sedu ketika diejek dan diketawain
"Tadi malam baca turutan (juz amma yang se-konco sama iqra 😒) nangis."
"Kalo nggak bagiin duet 500 awas aja nanti istirahat."
Dan dengan cengengnya gua nangis sesenggukan. Terlalu receh mungkin jika diingat masa ini. Tapi, dengan jiwa 'hero'-nya dia ngomong.
"Besok kalo orang itu gangguin lagi, bilang kakang ya."
sambil nepukin bahu untuk nenangin. Dan hebatnya para precil (preman kecil) itu berhenti gangguin lagi. Sweet juga sih ternyata 😅😅. Dan kamu yang namamu entah dimana, jangan cemburu yah. Ini hanya sekelumit kisah yang ingin aku ingat di kemudian hari. Agar rasa terima kasihku selalu bisa terucap jika nanti bertemu mereka 😉.
Dan....
Yang paling nggak habis pikir dari dulu sampe gua abegeh (ya kira-kira kelas 3 MTs ketika mata gua udah ngenalin kalo ada cowok ganteng dan yang biasa ajah) 😂😂. Style ke-lelakian itu lekat banget dah. Sampe pertengahan-akhir tahun 2012, ketika telah diizinkan menjejakkan kaki di sebuah kampus di Pekanbaru. Allah pertemukan aku dengan hijrah. Meski dari masa abu-abu pun aku sudah bergelut dengan pengajian.
Dan yang paling parah adalah ketika sekitaran syawal 1433, ketika bibi memutuskan untuk mudik dan berkumpul di rumah mbah kakung. (Mbah kakung dan mbah uti, genduk kangen. Alfatihah ðŸ˜ðŸ˜) bibi kesayangan nyeletuk dan itu ngebuat rasa syukur makin bertambah. Dan yakin banget ini semua karena Allah memang menyayangi guah.
"Wah, beruntung kamu nduk, pake rok. Kalo nggak jalannya aja pangling, bibi kira cowok keren mana tadi." 😒😒
Dan bagi penulis sih, itu jalan udah yang paling feminim 😅. Yah, kalo di kasi kesempatan. Moga aja ada yang mau bantuin berubah jadi feminim lagi 😂😂 meski nggak janji guah bisa 🙈.
Perjalanan organisasi di kampus sampai dunia kerja pun masih di warnai dengan yang begitu. Panggilan abang, mas, pak, ustad pernah berdendang riang di telinga ku yang kini udah nggak sehat-sehat banget. Efek sering dengerin panggilan itu kali yah 😅😅. Dan yang nyentrik sampe hari ini "Mbok yo pake yang feminim kenapa. Biar image laki-lakinya hangus" 😂😂... Dan gua cuma bisa nyengir dan berucap Hamdallah, karena Allah pertemukan dengan hijrah yang bisa meminimalisir 'kesalahan' masa lalu.
Kalo di webtoon ada edisi screen fanart. Kalo yang ini apaan yah? 😀😀. Apapun itu, Setidaknya ini perjalan ke-25 guah. Terima kasih doanya. Terima kasih karena telah melahirkan anak yang kelakunya minta digetok di dinding. Tahun ganjilku, tapi tetap tergenapkan karena Cinta dari bapak dan mak 😘😘. Terima kasih juga telah menjagaku dengan pengalaman-pengalaman hebat kalian. Meski adikmu ini masih suka ngeyel kalo di kasi tau 😃😃.
Masa laluku mungkin akan terasa hambar, begitu juga dengan hari ini, esok, lusa dan seterusnya tak begitu berarti, jika tanpa kalian teman-temanku. Terima kasih telah membersamai meski kadang-kadang sikap cuekku ngeselin banget.
ÙŠَا Ù…ُÙ‚َÙ„ِّبَ الْÙ‚ُÙ„ُوبِ Ø«َبِّتْ Ù‚َÙ„ْبِÙ‰ عَÙ„َÙ‰ دِينِÙƒَ
“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).
____See you soon____
📷 line webtoon

Komentar
Posting Komentar