satu waktu seorang narasumber di kelas online 'Malu Bertanya #8' Ust Sebastian menyampaiakan simpulan terkait materi yang telah dibahas di hari sebelumnya.

"Saya seringkali menasihatkan kepada teman-teman akhwat yang akan menikah, Mbak, tolong jangan menggantungkan kesalihanmu kepada suami ya, kalau bisa, kesalihanmu minimal menyamainya, atau bahkan melebihinya.


Mengapa demikian?


Sebab seandainya kesalihan perempuan tergantung suaminya, maka ya tidak akan mungkin Wahilah istri Nabi Nuh, akan durhaka kepada suaminya dengan mengatakan kepada kaumnya bahwa suaminya itu tidak berakal, padahal suaminya adalah manusia terbaik di eranya.


Seandainya, kesalihan perempuan tergantung suaminya, maka juga tidak akan mungkin Maryam binti Imran akan menjadi sebaik-baiknya wanita karena ia tidak memiliki seorang suami.


Seandainya juga, kesalihan perempuan tergantung suaminya, tidak mungkin Asiyah memiliki kedudukan tinggi di surga karena suaminya adalah manusia paling terkenal akan kejahatannya yang pernah tercatat di lembar sejarah.


Sadarilah, suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang banyak kelemahannya. Jangan berharap bahwa suamimu akan selalu berada di kondisi keimanan yang bagus. Keimanan, itu sifatnya naik dan turun. Maka, jadilah istri akhir zaman yang juga tidak pernah lelah untuk membersamai suamimu dalam menikmati naik dan turun imannya. 


Jadilah istri yang ketika keimanan suaminya tengah turun, kalian jangan ikutan turun. Melainkan, jadilah pasangan yang mampu merangkulnya kembali dan membangkitkan kembali keimanannya yang tengah futur." lalu beliau menutup kesimpulannya dengan kalimat tanya sekaligus penekanan


"Bisa ya?✨"

sahabat....

aku teringat pada kisah yang sedikit banyak sama dengan apa yang di sampaikan oleh Ustad tersebut. tapi, mungkin nasihatku tak sama dengan uraian itu, satu waktu ketika seorang (yang biarlah aku dan Allah saja yang tahu dirinya_jika kau membaca ini, izin mengutip secuil kisahmu untuk belajar ya 🤗) mengadu 'meminta nasihat'. Jujurly, secara umur mungkin aku mumpuni tapi tidak dengan pengalaman. Dengan tergagap aku berkata padanya 'jangan bergantung padanya-manusia red', maksudku adalah 'mandirilah' dalam segala aspek. Ketika satu waktu kau 'dicampakkan' kau tidak menjadi 'pengemis' untuk hatimu, untuk perasaanmu, untuk kebutuhan hidupmu, untuk kehidupan yang ingin kau jaga. 


Ketika kau ditinggalkan, kau tak akan merengek untuk dikasihani. Tapi, kau harus berdiri dengan benar. Kau harus mampu menopang tubuhmu dengan kakimu yang kokoh. Air matamu boleh berderai menganak sungai, setelahnya kau tahu kemana harus berlabuh, pada Allah yang maha pemilik kebaikan. Jujurly lagi, perempuan_inilah kompleksnya mereka. Terlalu ribet dengan perasaannya. Terlalu lembut untuk rasa sakit. Terlalu berlebihan dengan rasa iba, dan ironisnya aku jua adalah seperti mereka. Ku katakan kembali, aku tak pantas menasehati. Tapi, pesanku menguatlah, kembalilah pada Allah. Mengeluhlah padaNya, merengeklah padaNya, sejatinya Allah tahu, hanya saja Dia gemar mendengarnya.


Lalu apa yang terjadi ketika kau kekeuh mengatakan 'perasaanmu yang hancur' tapi tak lagi menjadi titik pedulinya. Kau hanya diabaikan, kau hanya sebagai lelucon untuknya, kau hanya topik seru untuk dijadikan bahan becandaan bersama teman atau masa depannya. Kau akan berulangkali dicampakkan, kau hahya akan berulang kali bersedih, kau akan berulangkali merasakan sakit.


Ku katakan padanya, bahwa aku merasakan sakitnya, aku peduli padanya. Dan, dia hanya tertunduk lesu dengan airmata mengalir pelan dipipinya yang lusuh. Aku tak sanggup untuk menyela air matanya, tapi dengan mantap aku katakan bahwa jika kau mau, kau bisa berbuat lebih baik untuknya dengan caramu. Tapi, jika kau tak mampu balaslah dengan cara terburuk menurut mereka yakni kau harus bangkit jauh lebih baik dari hari ini. Lalu kutinggalkan dirinya dengan kecamuk masalahnya. Sebab, dia sendiri yang harus memutuskan langkah mana yang akan ia ambil.



Tanjung Belit, 1 Juli 2024. 21.00

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Final Part, antara kita ada cinta

Sebilah Tanya