Final Part, antara kita ada cinta
Pilihan kita hanya ada dua. Mengikhlaskan atau menikahinya. Seperti yang dijelaskan Rosulullah saw dalam sabdanya.
"Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)." ( HR Bukhari)
Mengikhlaskan disini bukan berarti membiarkan perasaan kita dipenuhi doi-dia. Tetapi, dengan memasung perasaan dengan berpuasa. Agar nafsu tak meraja.
Kenapa? Menurut gurunda kita almukarrom ustad Salim A Fillah dalam buku Nikmatnya Pacaran Setelah Nikah.
"Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan. Membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya, saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku, kekuatan ada pada menahan. Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu berbuka yang penuh kejutan. Coba saja kalau Allah yang menghalalkan setitis cicipan surga, kan menjadi shadaqah berpahala."
Nah, cinta juga butuh di-puasa-in agar syahwat tunduk, tidak merajai diri kita. Agar ketika berbuka nantinya semakin nikmat. (Kebayang Ramdhan? MasyaAllah... Pertemukan kami kepada bulan-Mu yang mulia ya Rabbana.)
Karena menikah itu sebenarnya adalah
Dakwah ...
Amanah ...
Pahala ...
😱 kok berat gitu? Karena begitulah Allah menjelaskan dalam al-qur'an. Pernikahan itu adalah ikatan yang berat (مِيثَاقًا غَلِيظًا) hal ini tertuang dalam banyak surah di al-qur'an.
Meski dengan kagum, sudah bisa nikah,
Meski dengan rasa suka, bisa jadi modal nikah,
Meski dengan cinta, menikah cukup.
Bener sih, nggak ada salahnya. Toh seusia anak SMA sudah banyak yang nikah. Tapi, bentar deh 😀. Karena alasan yang simpel nan baper itu, ada bocah (bayi-red)tak berdosa yang ditemukan di tempat sampah, di sumur kosong, di hutan dan bahkan ada nih adik, temen sekolah (SMA-red) melahirkan disekolah.
Kenapa? Ini mah nggak jauh-jauh efeknya ya karena, modal cemen (kagum, suka dan cinta) yang di agungkan pake nafsu.
Beberapa hari yang lalu, temen ngaji sempet nyeletuk dipembahasan "akhwat jaman now" 😂😂😂 'kalo nyari suami yang hanif saja. Aduh... Udahlah pensiun jadi akhwat' 😂😂😂 kata-katanya biasa.
Tapi, itu booster sebenarnya. Kita dituntut untuk terus memperbaiki diri. Karena pernikahan adalah مِيثَاقًا غَلِيظًا maka kita dituntut banyak hal. Diantaranya mempersiapkan ibu-ayah yang hebat untuk generasi selanjutnya. Bukan saja masalah materi, tetapi keterlibatan hidupnya kepada Sang Khaliq.
Yah.... Neski entah jodoh mana yang akan berkunjung lebih dahulu.
Mautkah?
Atau....
pernikahan?
Tetap, Perbaiki diri, bukan Untuk mencari yang paling baik. Tapi, setidaknya agar Allah lihat bahwa kita siap dan mampu mengembannya.
Sahabat....
Bukannya surah annur :26 Sudah mengingatkan
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ...
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...
Ah... Nggak semuanya gitu. Banyak kok diantara mereka yang bertemu temen seperjuangan, bukan dari "tempat yang sama"? Yup... Bener banget malah 😊😊.
Nah, itulah kenapa menikah itu dakwah, amanah dan juga pahala. Karena ketika dia mampu menyalurkan pemahaman hingga hidayah Allah sampai pada pasangannya, maka dia mendapat pahala bonus, yang lebih baik dari unta merah. 😍😍
Selamat menjemput keistiqomahan.
Triang MarTan
Tanjung Belit, 02 ramadhan 1439
09.45 ditemani rintik hujan
Repost, 15 jumadil akhir 1440
Semoga tahun ini menjadi tahun pencapaian ya temen-temen? 😄
~~~ End 😍😍~~~

😍
BalasHapusjazakillah khair sudah mampir :)
Hapus