Move On, kuy 😉










Ujian itu..... 

sejurus dengan apa yang kita junjung tinggi, Seperti pendahulu kita. 

Nabi Ibrahim yang menjunjung tinggi cinta. Allah uji dengan kecintaan yang luar biasa. Dari keterlambatan hamil, kecemburuan, serta menyembelih putra tersayang.


Kalo zaman now, orang tuanya tega-an buang anaknya ditong sampah (miris 😭). Memasukkan tubuh lunglai itu ke dalam plastik item dibuang di pinggir trotoar badan jalan. Bahkan rela ngeluarin hang banyak nemuin dokter atau dukun bayi untuk ngegugurin si calon bayi. Padahal jika saja, hari itu ia bisa berteriak dengan kencang ia Pasti akan katakan "Apakah aku sungguh menjadi 'beban malu' bagi orang tuaku?".


 Aku kadang juga heran dan takjub dengan takdir yang Allah gulirkan kepada hambanya, ada yang rela menjadi cemoohan dengan menikah muda untuk melindungi diri dari zina bahkan masih Allah uji lagi dengan sulit atau lamanya mendapat momongan. Tapi, mereka yang sukanya hanya menikmati waktu tak lama bergumul dengan maksiat Allah titipkan momongan yang sangat lucu agar dididik menjadi penerus. Meski kadang mereka kembali menghukumnya dengan menggugurkan, membuangnya, atau bahkan membunuh sebelum waktu si jabang bayi melihat hiruk pikuk dunia ini. 😭😭


Atau,Wanita mulia, Maryam. Yang menjunjung tinggi kesucian. Allah uji dengan izzah yang begitu hebat. Hamil tanpa ada seorang suami. Dan itu membuatnya sangat terpukul, hingga menginginkannya kematian.

Kalo now, hamil duluan bukannya malu. eh... malah dibikinin pesta yang sangat meriah. Jangankan untuk menghukumnya dengan ketentuan syariat (rajam), diadili di mahkamah hukum manusia pun tidak. Setelah kemarin-nya pesta meriah digelar, suara sound system yang menggelegar memecah keheningan malam sehingga mengganggu kenyamanan malam bagi mereka yang ingin beristirahat. Paginya bayi yang di hasilkan dari pergumulan sebelum halal pun lahir. Seakan tak ada yang terjadi, dengan pongahnya malah membanggakan. Naudzubillah. 


Kekasih mulia, Nabiyullah Saw. Yang menjunjung tinggi kejujuran, yang saat itu masyarakat hingga musuh mengakui kejujurannya. Lalu, Allah uji kepercayaan itu dengan ujian yang sungguh berat, yakni mengemban dakwah. Sehingga, ketika wahyu pertama turun membuat beliau menjadi terguncang, menggigil ketakutan.

 Nah,sekarang, nggak dikasi amanah malah minta. Setelah diberikan amanah... eeh.... malah.... (jawab sendiri yah, kan pada punya jawaban 😄).

Nah, sama kayak kita yang ngakunya kekinian 😄. Yang hari ini sedang mempersiapkan untuk hidup berumah tangga, Allah uji dulu dengan keterlambatan (misalnya 😅), ditolak (uhuk... Perih 😪😪), di-PHP-in (salah sendiri mau😅😅). 


Yang hari ini, menyibukkan diri dengan hijrahnya. tetep Allah uji dengan  ditinggalkan teman terdekat, dicaci orang yang dicintai. 


Juga yang hari ini sedang ingin diistiqomahkan, tetep Allah uji. Dikirim orang-orang yang akan melemahkan tekad.  Itu, semua karena Allah ingin lihat seberapa besar cinta kita sama Dia.

Jangankan Allah, doi aja kalo lu bilang cinta masih ngarep dengan dalih "jika benar, kau mencintaiku apa buktinya (beeeuuhh kayak dunia punya dia aja)."

"Putusin le.... putusin....."
Kenapa di putusin?  Karena 
اللهم اجرني في مسيبتي واخلف لي خيرا منها

 "Ya Allah! Berilah pahala kepadaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik (dari musibahku)." -HR. Muslim-

InsyaAllah, ada ganti terbaik yang telah Allah tetapkan. Siap Move on???  😉😉


Sejangat, 23 Januari 2018.
Triang MarTan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Final Part, antara kita ada cinta

Sebilah Tanya