Facial dalam kesederhanaan
Khumaira...
Tentang rona ke-pink-pink-an (😁😁 maksa euy). Karena kamu tetep istimewa.
Nggak perlu blush on (aduh bener nggak nih, sueeerr nggak ngarti gw 😄😄). Kayak jaman now, biar makin cakep (katanya 😂) make dah tu make up mahal 😲😲. Yang santer dan banyak guah temuin nih, mereka pake produk pemutih instan biar putih dah tu pipi. Meski terlihat maksa karena sebenarnya warna tubuhnya nggak putih. Jadi terlihat lah perbedaan antara langit dan bumi pada kulit wajah dan tangannya (gimana ngegambrinnya yah 😪).
Mungkin bagi mereka, wajah yang menarik dan enak untuk dikonsumsi publik adalah satu capaian hebat bagi hidupnya. Ketika wajahnya banyak menarik lawan jenis untuk memujinya, menurutnya itu adalah kebanggaan. Sehingga, rela menghabiskan banyak uang, waktu dan kesempatan yang hanya terbuang sia-sia. Padahal, jika saja kita lebih cerdas dan sedikit lebih kritis ,harusnya siap mempertanyakan "seberapa menghitamkan hatiku bergelimang dosa? Masih ada celahkah untuk menjadikannya bersinar lagi dalam kebaikan?"
Pemutih manakah yang mampu menembus ampunan Allah?
Sungguh, kita layak belajar lagi dari perempuan anggun yang merelakan pipi meronanya berlinang darah karena digampar premannya Arab, Umar bin Khattab yang juga merupakan Abangnya. Hanya karena 1 alasan hebat, yakni agar hidayah Allah sampai padanya.
Ya dialah, Fatimah Ra. Kalaulah saja, saat itu Fatimah Ra adalah tipe wanita yang amat melindung muka mulusnya, yang senang bersolek. Yang hanya memikirkan bagaimana agar wajah anggunnya di senangi oleh banyak mata. Lantas bagaimana nasib sang khalifah kedua yang mampu meluaskan Islam hingga Eropa dan Afrika? Ini kisah dimana cahaya Hidayah, Allah perkenankan mengetuk hati Al-Faruq. bingung? Baca buku sejarah lagi ya. Atau... InsyaAllah kalo seri tentang perempuan selesai bakalan tak ajakin ke sana 😊
Atau tentang berat badan yang nambah bikin stress, yang bahkan banyak perempuan yang sampe ngerogoh saku sampe dalem demi sedot lemak agar kurus 😐😐.relain juga nggak makan siang dan malam, atau dengan menggantinya dengan cukup makan sayur atau buah sahaja. Padahal itu nyiksa tubuh banget. Dzalim banget sama tubuh sendiri.
Kita pantas belajar lebih, daru seorang perempuan sekaligus ummahat hebat. Yabg hari ini sejarah mengenal (Saudah 😔😔😔). Atau Rosulullah saw memanggilnya Ummu Imarah. Kalau saja waktu itu, Ummu Imarah adalah tipe wanita yang sangat menjaga keindahan tubuhnya. Ia tidak akan sudi berlelah-lelah ke Uhud dan bersakit-sakit pulang dengan 13 luka sabetan pedang. Ia tak pernah mau punya satu luka pun yang menganga di punggungnya, dan baru sembuh setelah satu tahun, akibat jadi tameng Rasullullah.
Atau menjadi sosok yang cengeng. Terisak-isak cantik semalaman di kamar karena diputusin pacar. Atau galau ketjeh (😃😃 ada gitu ya?) karena sang pujaan tak juga datang meng-khitbah (😂😂 yang ini ada yang merasa?).
Duhaaiii.... masihkah kita ingat tentang Dia, Hindun binti Abdullah yang dengan tegar mengangkat mayat anak, saudara dan bahkan suami tercinta ke atas unta untuk dimakamkan? Sungguh memikirkan ditinggal oleh orang-orang tersayang sangat menyayat hati. (Jujur memikirkannya saja gerimis dipelupuk mata 😢😢).
Tapi, inilah dia perempuan dan ummahat hebat jiwa dan raganya yang terus terhubung bersama Robbnya, Allah azza wajalla. Bukannya menangis dan meraung tetapi dengan gagahnya ia katakan.
"Rasulullah baik-baik saja. Musibah selain beliau sangatlah ringan. Dan Allah jadikan kaum mukmin sebagai syuhada".
Duhaaiii....
Sudah sedalam manakah Cinta kita kepada lelaki penggenggam hujan itu?
Sudah sesering manakah kita memikirkan dia, layaknya dia yang hingga terbata nyawa berlepas diri, ia masih saja mengingati kita "ummati... Ummati... Ummati."
Masihkah kita bangga dengan 'kepemilikan' yabg sekarang?
Sudah sesering mana kita memanggilnya dalam sholawat? Layaknya dia yang tak berlepas diri hingga nanti di panjangnya sirath. Ia masih menyebut-nyebut dengan "selamatkan.... Selamatkan.... Selamatkan...."
Tentang rona ke-pink-pink-an (😁😁 maksa euy). Karena kamu tetep istimewa.
Nggak perlu blush on (aduh bener nggak nih, sueeerr nggak ngarti gw 😄😄). Kayak jaman now, biar makin cakep (katanya 😂) make dah tu make up mahal 😲😲. Yang santer dan banyak guah temuin nih, mereka pake produk pemutih instan biar putih dah tu pipi. Meski terlihat maksa karena sebenarnya warna tubuhnya nggak putih. Jadi terlihat lah perbedaan antara langit dan bumi pada kulit wajah dan tangannya (gimana ngegambrinnya yah 😪).
Mungkin bagi mereka, wajah yang menarik dan enak untuk dikonsumsi publik adalah satu capaian hebat bagi hidupnya. Ketika wajahnya banyak menarik lawan jenis untuk memujinya, menurutnya itu adalah kebanggaan. Sehingga, rela menghabiskan banyak uang, waktu dan kesempatan yang hanya terbuang sia-sia. Padahal, jika saja kita lebih cerdas dan sedikit lebih kritis ,harusnya siap mempertanyakan "seberapa menghitamkan hatiku bergelimang dosa? Masih ada celahkah untuk menjadikannya bersinar lagi dalam kebaikan?"
Pemutih manakah yang mampu menembus ampunan Allah?
Sungguh, kita layak belajar lagi dari perempuan anggun yang merelakan pipi meronanya berlinang darah karena digampar premannya Arab, Umar bin Khattab yang juga merupakan Abangnya. Hanya karena 1 alasan hebat, yakni agar hidayah Allah sampai padanya.
Ya dialah, Fatimah Ra. Kalaulah saja, saat itu Fatimah Ra adalah tipe wanita yang amat melindung muka mulusnya, yang senang bersolek. Yang hanya memikirkan bagaimana agar wajah anggunnya di senangi oleh banyak mata. Lantas bagaimana nasib sang khalifah kedua yang mampu meluaskan Islam hingga Eropa dan Afrika? Ini kisah dimana cahaya Hidayah, Allah perkenankan mengetuk hati Al-Faruq. bingung? Baca buku sejarah lagi ya. Atau... InsyaAllah kalo seri tentang perempuan selesai bakalan tak ajakin ke sana 😊
Atau tentang berat badan yang nambah bikin stress, yang bahkan banyak perempuan yang sampe ngerogoh saku sampe dalem demi sedot lemak agar kurus 😐😐.relain juga nggak makan siang dan malam, atau dengan menggantinya dengan cukup makan sayur atau buah sahaja. Padahal itu nyiksa tubuh banget. Dzalim banget sama tubuh sendiri.
Kita pantas belajar lebih, daru seorang perempuan sekaligus ummahat hebat. Yabg hari ini sejarah mengenal (Saudah 😔😔😔). Atau Rosulullah saw memanggilnya Ummu Imarah. Kalau saja waktu itu, Ummu Imarah adalah tipe wanita yang sangat menjaga keindahan tubuhnya. Ia tidak akan sudi berlelah-lelah ke Uhud dan bersakit-sakit pulang dengan 13 luka sabetan pedang. Ia tak pernah mau punya satu luka pun yang menganga di punggungnya, dan baru sembuh setelah satu tahun, akibat jadi tameng Rasullullah.
Atau menjadi sosok yang cengeng. Terisak-isak cantik semalaman di kamar karena diputusin pacar. Atau galau ketjeh (😃😃 ada gitu ya?) karena sang pujaan tak juga datang meng-khitbah (😂😂 yang ini ada yang merasa?).
Duhaaiii.... masihkah kita ingat tentang Dia, Hindun binti Abdullah yang dengan tegar mengangkat mayat anak, saudara dan bahkan suami tercinta ke atas unta untuk dimakamkan? Sungguh memikirkan ditinggal oleh orang-orang tersayang sangat menyayat hati. (Jujur memikirkannya saja gerimis dipelupuk mata 😢😢).
Tapi, inilah dia perempuan dan ummahat hebat jiwa dan raganya yang terus terhubung bersama Robbnya, Allah azza wajalla. Bukannya menangis dan meraung tetapi dengan gagahnya ia katakan.
"Rasulullah baik-baik saja. Musibah selain beliau sangatlah ringan. Dan Allah jadikan kaum mukmin sebagai syuhada".
Duhaaiii....
Sudah sedalam manakah Cinta kita kepada lelaki penggenggam hujan itu?
Sudah sesering manakah kita memikirkan dia, layaknya dia yang hingga terbata nyawa berlepas diri, ia masih saja mengingati kita "ummati... Ummati... Ummati."
Masihkah kita bangga dengan 'kepemilikan' yabg sekarang?
Sudah sesering mana kita memanggilnya dalam sholawat? Layaknya dia yang tak berlepas diri hingga nanti di panjangnya sirath. Ia masih menyebut-nyebut dengan "selamatkan.... Selamatkan.... Selamatkan...."

Komentar
Posting Komentar